Gejolak agama dan politik kian marak terjadi di Indonesia akhir-akhir ini. Cerita ini bermula ketika munculnya iklan “kontroversional” milik PKS, berbagai kepentingan pun mencari kesempatan menunggangi kemunculan iklan ini. Menurut saya pribadi, ada dua kepentingan dibalik sorotan tajam berbagai kalangan terhadap iklan ini. Pertama kepentingan ideology atau lebih tepatnya kepentingan agama. Kedua sudah sangat jelas bahwa dalam kisruh ini terdapat kepentingan politik para pemuja kekuasaan, menginggat tidak lama lagi Indonesia akan mengadakan pemilihan umum.
Jujur, hingga saat ini, hingga keluarnya postingan ini penulis tidak berdiri di pihak manapun dalam ranah politik tapi berdiri sebagai orang yang peduli terhadap agama dan umat islam dalam ranah kepercayaan.
Mari kita buka kembali buku sejarah nasional Indonesia baik SD, SMP hingga SMA, walaupun katanya terdapat banyak penyelewengan fakta namun setidak nya untuk fakta yang satu ini benar dan sangat terasa akibatnya bagi bangsa Indonesia sejak masa perjuangan hingga era kemerdekaan ini. Apakah fakta itu…?? Kita pernah mengenal dan merasakan kepedihan dan kesengsaraan yang berkepanjangan akibat politik yang di populerkan oleh penjajah Belanda beberapa abad silam, dan kini politik tersebut jelas masih sering digunakan dan serta sangat efektif digunakan dilingkungan masyarakat Indonesia yang heterogen.
Devide Et Impera atau politik pecah belah, mari kita sadari keberadaannya. Dalam kasus Iklan PKS ini politik devide et impera jelas adalah “dalangnya”. Tetapi dalam hal ini penulis menganalisanya lebih menggunakan kacamata agama disamping kepentingan politik. Alasannya adalah karena nilai agama (agama islam) jauh lebih penting dari pada nilai politik namun penulis juga tidak mengatakan bahwa nilai politik tidak penting, tapi kadar kepentingannya dalam kasus ini lebih rendah dibanding dengan nilai agama islam.
Mengapa masyarakat islam tidak menyadari hal ini, mengapa para intelektual sekaligus tokoh-tokoh islam tidak tahu akan hal ini….??? Atau jangan-jangan mereka tidak mau tahu karena telah dibutakan oleh silaunya kursi kepemimpinan ( Jabatan Presiden) sehingga mereka mau dan menurut saja ketika diperalat oleh para perongrong agama islam, mudah sekali terseret dalam perpecahan yang memang diharapkan oleh orang-orang tertentu, dan merasa kecolongan yang akan mengakibatkan hilangnya beribu-ribu suara yang diharap-harapkan dalam pemilu mendatang. Mengapa mempermasalahkan penokohan sementara bahaya yang jauh lebih besar dari semua itu dikesampingkan.
Astarfirullahal azim…………maaf, bukan maksud saya menghujat tapi itu adalah buah kekhawatiran saya, mudah mudahan bisa dimaafkan. Seandainya kekhwatiran saya ini benar, mohon kita semua bermuhasabah melihat kembali diri kita ini. Surga Allah jauh lebih nikmat dibanding empuknya tampuk pimpinan dan jauh lebih indah dibanding kilauan kursi kepresidenan. Mengapa kita tidak berusaha menyatukan umat islam.
PKS, NU dan Muhammadiyah, siapa yang lebih benar ajarannya……?? Walahualam. Hanya Allah yang tahu pasti kebenarannya. PKS, NU, dan Muhammadiyah kita ini saudara, kita ini sesama muslim, Tuhan kita satu La illaha illallah dan Muhammad adalah rasullullah nabi terakhir. Ini inti ajaran islam yang otomatis mengkafirkan kita jika kita mengabaikan salah satu saja keduanya.
Wahai para pemimpin umat islam baik PKS, NU dan Muhammadiyah mari kita melihat bahaya politik “Devide Et Impera”, sudah cukup nenek moyang kita yang menjadi korban politik ini, kita sudah tahu dan sudah pernah belajar tentangnya. Ingat persatuan dan persaudaraan islam jauh lebih penting dari sekedar kursi kepemimpinan.
Mudah-mudahan yang sedikit ini bermanfaat bagi kita semua baik PKS, NU dan Muhammadiyah.dan mudah- mudahan islam bisa bersatu memayungi 2/3 dunia seperti beberapa abad silam.
Ditulis oleh Erm@n