Harga BBM Melawi di Pasaran Naik Akibat Kelangkaan Di SPBU

Adrianus Jumadi
Bornoe Tribune, Nanga Pinoh

Menjelang keputusan pemerintah pusat untuk memberlakukan harga BBM jenis premium dari harga Rp 6000 turun menjadi Rp 5500 per liter, berdampak terjadi kelangkaan di tiga SPBU yang ada di Kabupaten Nanga Pinoh SPBU layaknya tempat mengisi premium, kini beralih di kios-kios. Kondisi ini telah berlangsung selama empat hari terakhir ini.
Akibat kelangkaan tersebut, harga premium pun merangka naik. Untung harga di kios-kios yang tersebar di Kota Juang, tidak terlalu mahal. Kisaran harga antara Rp 6500 hingga Rp 8000. Meskipun harganya tidak melambung tinggi, namun kondisi ini sangat merugikan dan menghambat aktivitas masyarakat secara umum.
Bagi masyarakat pedalaman, seperti di Kabupaten Melawi, harga BBM yang cukup tinggi memang sudah tidak heran lagi. Apalagi dengan adanya kebijakan terhadap harga BBM, tentu berbagai dalih menyebabkan kelangkaan BBM. Tidak berkenaan dengan kebijakan saja, di Melawi harga BBM sering naik tanpa sebab. Terutama pada saat musim kemarau, BBM di Melawi sering terjadi kelangkaan.
Sementara kelangkaan bensin di SPBU yang terletak di Sidomulyo, akibat ulah pemiliknya menghentikan pengambilan jatah dua hari menjelang diberlakunya harga Rp 5500 per liter. Alasannya, klasik yakni tidak berani menyetok takut rugi. Karena harga beli pada saat itu masih mahal. “Dua hari sebelum turun harga, bos tak ambil jatah, takut tak habis. Kalau tidak habis dan harganya masih mahal, perhitungannya bisa rugi. Mungkin itulah pertimbangan bos,” kata petugas SPBU, Acin.
Untuk sementara ini, jatah setiap SPBU masih tetap normal. Seperti SPBU yang berada di Sidomulyo, untuk setiap harinya mendapat jatah dua tangki. Karena sempat tidak mengambil jatah selama dua hari menjelang tanggal 1 Desember, mengakibatkan stock habis sementara kebutuhan tetap. “Sekarang setiap datang tidak lama habis. Karena orang banyak antri terutama untuk di jual di daerah. Mereka juga tidak mau beli pada waktu harganya mahal, sehingga pembeli menumpuk,” tuturnya.
Sepertinya kebijakan pemerintah tidak selalu membawa perubahan positif. Perubahan selalu diawali dengan kepahitan yang dirasakan rakyat. Harapan harga BBM turun berdampak baik bagi perekonomian masyarakat, malah sebaliknya masyarakat selalu terhimpit. “Harga turun tidak seberapa, malah naiknya yang terjadi. Jadi percuma, rakyat tetap tidak menikmati kebijakan penurunan harga BBM tersebut,” ungkap Sutejo Warga Desa Tanjung Sari Kecamatan Pinoh.
Masyarakat berharap kondisi ini tidak berlangsung lama. Karena itu, mereka minta kepada pihak pemerintah bersama DPRD agar melakukan pengawasan dan pemantauan sehingga permasalahan ini cepat diatasi. Demikian juga kepada pihak pertamina, agar tidak memberikan peluang kepada pemilik SPBU untuk melakukan spekulasi atau melakukan tindakan untuk semata-mata mencari untung. “BBM adalah suatu kebutuhan yang menyangkut hidup orang banyak. Pertamina diberikan untuk mengelola usaha tersebut, harus memperhitungan hajat dan hidup orang banyak. Termasuk para pemilik SPBU. Jika mereka nakal, hendaknya ditindak tegas sesuai aturan,” pinta Sutejo.

Sumber : Borneo Tribun.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s