Tagana Untuk Antisipasi Bencana

Nanga Pinoh, Indonesia semakin indentik dengan bencana. Sebut saja banjir, tanah longsor, kebakaran hutan, gempa bumi bahkan konflik sosial atau kerusuhan. Kabupaten Melawi pun tak luput dari kenyataan tersebut. Guna mengantisipasi bencana, Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnaketran) Kabupaten Melawi melakukan peningkatan kemampuan personel Taruna Siaga Bencana (Tagana).
“Masih segar dalam ingatan kita, awal September 2008 lalu saat bulan Ramadan, banjir melanda hampir separoh dari tanah daratan di 11 kecamatan dan 169 desa dalam wilayah Kabupaten Melawi,” kata Kabid Sosial Dinsosnaketran Kabupaten Melawi, Drs Oslan Junaidi, kemarin.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Melawi sempat gugup saat menangani musibah banjir September lalu. Pemkab kemudian membentuk tim penanggulangan bencana dan sempat berjibaku, karena tidak memiliki pranata sosial maupun satuan yang mapan dalam menghadapi bencana yang datang tiba-tiba. Namun kondisi itu dapat diatasi melalui tim penanggulangan banjir yang terdiri dari berbagai elemen. Yakni PMI, Dinas Kesehatan, TNI, Polri dan Pencinta Alam (PA) Ciwanadri, termasuk partai politik dan pihak lainnya. Penanggulangannya ketika itu dimotori oleh Disosnakertran Kabupaten Melawi bersama Tagana.
Dikatakannya, kesiagaan mutlak diperlukan karena manusia tidak ada yang dapat meramalkan secara valid kapan dan dimana akan datangnya bencana. Faktor kesadaran inilah yang harus ditumbuhkan di tengah-tengah masyarakat. Berdasarkan tugas pokok dan fungsinya, pemerintah melalui Departemen Sosial memandang sangat perlu membentuk sebuah lembaga untuk kesiagaan. Pada tanggal 23 Maret 2004, dideklarasikan Tagana. “Melawi sendiri melalui Disosnakertran secara resmi telah menetapkan kepengurusan Tagana pada bulan Oktober dan dalam waktu dekat akan dilakukan pengukuhan,” ungkap Oslan.
Setelah dilakukan pengukuhan Tagana Kabupaten Melawi langsung melaksanakan pelatihan dalam rangka pemantapan tugas-tugas Tagana itu sendiri. Pada saat pembukaan pemantapan nanti, Disosnakertran berencana akan melibat SAR Kalbar, Tagana Provinsi, TNI, Polri, PMI, PA Ciwanadri dan siswa SMU/SMK serta ORARI/RAPI. Oslan menerangkan, pelaksanaan pemantapan Tagana Melawi rencananya akan dilaksanakan pada bulan ini, “Mengingat kita akan berhadapan dengan beratnya tugas-tugas ke depan yang diemban Disosnakertran, khususnya dalam menghadapi permasalahan bencana,” ulas Oslan.
Terlebih lagi, Tagana yang menganut prinsip “ We are the First to Help” berarti Tagana menjadikan dirinya yang pertama memberikan pertolongan  dan terdepan dalam penanggulangan bencana. Tagana juga diharapkan terdepan memberikan  pelayanan, perlindungan dan rehabilitasi sosial serta harus menjadi unsur pemersatu yang melindungi perbedaan kepentingan. Tagana Melawi yang telah dilatih di provinsi dan diakui oleh Departemen Sosial masih sangat minim personilnya, yaitu berjumlah 20 orang. Minimnya personil dan fasilitas yang dimiliki Disosnakertran untuk Tagana juga masih sangat terbatas. Ungkap Oslan, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Melawi tahun 2008 masih belum optimal.  “Namun, kita berupaya untuk dapat berbuat sesuai dengan kemampuan yang ada. Patut disyukuri, pada bulan ini Tagana selain melakukan latihan pemantapan juga akan menempati sekretariat sendiri,” ungkap Oslan.
Fasilitas sekretariat tersebut terdiri dari komputer, radio dan  dua speed boat sebagai pendukung kegiatan. Selain itu, Tagana juga memiliki tanda-tanda dan perlengkapan dapur umum. “Kita berharap pada tahun 2009 Pemkab Melawi juga memberikan dukungan melalui APBD, terutama dukungan terhadap kendaraan darat yang sangat diperlukan dalam rangka distribusi bantuan maupun dropping personil pada saat kondisi perlu juga dukungan terhadap peningkatan peran serta penanggulangan bencana berbasis masyarakat,” harap Oslan.
Perkembangan Tagana setelah memasuki masa empat tahun sejak berdirinya, semakin meningkatkan peranannya. Jika pada awal terbentuk memiliki tugas emergency shelter, yaitu penanganan pengungsi bencana dengan manajemen shelter meliputi pemenuhan kebutuhan pokok sandang, pangan dan hunian sementara, maka sekarang Tagana  mendapat tugas yang lebih luas, antara lain sebelum bencana (preparedness) yaitu kesiapsiagaan, tanggap darurat (emergency respons), penanganan pasca bencana (rehabilitation)
Diterangkan Oslan, Tagana adalah pekerja sosial dan terlibat dalam pelestarian alam. Seperti penanaman pohon dan penyuluhan di lokasi bencana maupun rawan bencana, sehingga mereka tahu bahwa bencana juga ada yang disebabkan oleh manusia seperti penebangan pohon yang tidak sesuai aturan. Tagana juga berperan dalam penanganan masalah sosial. Meskipun tidak dibentuk secara khusus untuk  turut menyelesaikan konflik sosial, namun Tagana memiliki akses sebagai sosial passport-nya. Oleh karena itu, Tagana juga sebagai lembaga sosial penanggulangan bencana berbasis masyarakat dalam penanganan konflik, juga berlaku sebagai jembatan persahabatan. “Semoga dengan pemantapan dan pengukuhan Tagana Kabupaten Malawi ini, penanganan bencana alam dan bencana sosial dapat lebih terarah, terpadu dan terkoordinasi. Di sisi lain, Tagana yang juga pekerja sosial dapat memberikan peran serta dan dukungan dalam program-program Pemkab Malawi,” pungkasnya.